Dewi Kartika

31 Oktober, 2009

Bagaimana kita berfikir?

Mengapa beberapa orang berhasil mencapai kesuksesan dan mengapa beberapa diantaranya mengalami kegagalan? Apa yang membedakannya? Tak lain adalah cara kita berpikir! Disadari atau tidak, apa yang kita lakukan selalu bertolak dari bagaimana cara pikir kita.
Jika kita mampu berpikir secara benar, maka kita akan berhasil. Sebaliknya, jika cara pikir kita keliru, kita pun akan gagal. Bagaimana cara kita berpikir selama ini? Beberapa pertanyaan berikut mungkin akan membantu kita melakukan intropeksi diri.

  1. Berpikir pasif atau berpikir dengan cara yang kreatif?
  2. Berpikir kecil untuk jangka pendek atau berpikir menurut gambaran besar untuk jangka panjang?
  3. Berpikir sendiri atau berpikir bersama?
  4. Berpikir melantur atau berpikir secara terfokus?
  5. Berkhayal atau berpikir realistis?
  6. Berpikir acak atau berpikir strategis?
  7. Berpikir sempit atau berpikir penuh kemungkinan?
  8. Berpikir menurut pandangan umum atau berpikir lain dari biasanya?
  9. Berpikir egois atau berpikir untuk kepentingan bersama?
  10. Bertindak baru berpikir atau berpikir baru bertindak?

Kalau sekarang ini kita belum sukses, mungkin itu disebabkan cara berpikir kita yang keliru. Apa yang kita pikirkan menentukan siapa kita. Siapa kita menentukan apa yang kita perbuat. Apa yang kita perbuat menentukan takdir kita. Takdir kita menentukan warisan kita. Jadi, semuanya dimulai dari pikiran kita.

James Allen pernah berkata dengan bijak soal pikiran, “Hari ini Anda berada ke mana pikiran Anda telah membawa Anda. Besok Anda akan berada ke mana pikiran Anda membawa Anda.”

Pikiran adalah kekuatan luar biasa yang harus bisa dikendalikan. Galileo bahkan pernah mengatakan "hati-hati dengan pikiran Anda". Apa yang harus dikendalikan? pikiran negatif adalah hal yang harus bisa dikendalikan. Pikiran negatif memang tidak bisa kita tolak masuk ke pikiran kita, namun kita harus melawannya dengan lebih banyak memasukan pikiran yang positif.

Kita adalah apa yang kita pikirkan!! jika kita pikir akan gagal, maka sebenarnya adalah kita sudah gagal. Untuk itu sukses selalu dimulai dari pikiran !. Kita harus memiliki sikap "can do attitude" yakni "aku bisa melakukan hal itu".

Banyak orang yang belum apa-apa sudah mengatakan "aku tidak bisa". Memang nantinya kita akan diuji oleh kekalahan/kegagalan tapi kita jangan berhenti, tetap jaga pikiran secara positif bahwa setelah malam yang paling gelap, fajar akan segera menyingsing

Ingatkan diri secara terus menerus bahwa sukses bukan hanya milik orang yang brilian, berbakat, penuh keberuntungan dll tapi sukses luar biasa adalah milik orang yang persisten (pantang menyerah), yang terus berusaha mencari cara lebih baik dalam menemukan formula kemenangan meski berton-ton rintangan menghalangi kita.

Untuk menemukan emas, pendulang harus menggali berton-ton tanah lumpur. Jangan pikirkan tanah lumpurnya tapi fokuslah pada emasnya!!"Penemuan terbesar dalam generasi saya adalah bahwa kita dapat merubah hidup kita dengan merubah pola pikir kita" (William James)

Alloh berfirman, “Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepada- Ku. Apabila ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan baginya, dan bila berprasangka buruk maka keburukan baginya.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).

Label:

29 Oktober, 2009

Maafkan ayah anakku

Maafkan ayah yang tak dapat membelikanmu susu,

anakku kau tahu kan,
kita tak ada uang
Tadi ayah ke tuan Hasan dan tuan Hasan berkata:

uang tak ada
perusahaan rugi melulu
kalian sih, tiada capai demonstrasi
Maafkan ayah yang tak dapat membelikanmu susu,
anakku karena barang-barang telah terjual
hanya foto ibumu yang sisa
dan bila itu kita jual pula,
ke mana kita memandang,
bila datang sepi?

Dan sepi memang datang malam ini
Maka lihatlah:
seorang lelaki dewasa,
dengan anaknya,
bergumam lirih:

mama, mengapa tinggalkan kami

OASE

Republika on line, edisi : 26 September 1999

22 Oktober, 2009

Ibu, Apa Kabarmu hari ini?


Tuhan mempunyai maksud tertentu ketika menciptakan manusia, dan maksud tersebut menjadi Tugas bagi setiap Manusia yang dilahirkan di muka bumi. Agar masing-masing manusia dapat menjalankan tugas yang diembannya.

Tuhan... tidak pernah lupa untuk memberikan "fasilitas" yang unik kepada masing-masing Orang yang kemudian dinamakan "Bakat". Kalau saja setiap manusia bisa menemukan "bakat"-nya masing-masing, berarti bahwa kita bisa menemukan "jalan" sukses masing-masing. Dan untuk bisa mendapat tiket masuk ke jalan tersebut, dibutuhkan "Do'a Ibu", karena Ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di mata Allah.

Kenanglah Ibu yang menyayangi kita, untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kita pergi... Ingatkah , ketika ibu kita rela tidur tanpa selimut demi melihat kita tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuh kita, Ingatkah ketika jemari ibu mengusap lembut kepala kita ? Dan ingatkah ketika air mata menetes dari mata ibu ketika ia melihat kita terbaring sakit..?

Sesekali jenguklah ibu yang selalu menantikan kepulangan kita di rumah tempat kita dilahirkan. Kembalilah memohon maaf pada ibu yang selalu rindu akan senyuman kita. Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuat kita lupa untuk pulang. Segeralah jenguk ibu yang berdiri menanti kita di depan pintu bahkan sampai malam pun kian larut.

Jangan biarkan kita kehilangan saat yang akan kita rindukan di masa datang ketika ibu telah tiada... Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita... Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia... Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya. Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.

Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untuk dimakan... Tak ada lagi yang rela merawat kita sampai larut malam ketika kita sakit... Tak ada lagi dan tak ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akan kita di setiap hembusan nafasnya...

Kembalilah segera... Peluklah ibu yang selalu menyayangi. Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukan kita dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.

Sahabat... berdo'alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya. Jangan biarkan engkau menyesal di masa datang, kembalilah pada ibu yang selalu menyayangi kita. Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya... Ibu... maafkan aku... Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas

Label:

18 Oktober, 2009

Tentang Status warna di Face Book


Tulisan ini terispirasi dari status teman di Face Book yang melihat dunia ini sebagai abu-abu “Didunia ini tidak ada yang hitam dan tidak ada yang putih yang ada kita hidup di area abu-abu”

Sebuah perdepatan tentang warna ini pun muncul ada banyak sekali komentar, komentar yang serius , sampai yang sekedar goyonan pun saling bersambut


Komentar 1 : bila hidup diwarnai seperti warna pelangi, indah sekali. putih milik awan, hitam kelabu milik mendung...


Komentar 2: yang pasti warna dunia Fb adalah ajang pelampiasaan...seneng,sedih,,benci......maki maki orang,,kadang gak sadar juga nyakiti orang seolah jauh lebih baik,,,hehehehehehe kayake gitu dehh


Komentar 3 : Gimana kalo yang sewarna kita jodohin aja yang sama-sama puitis….haa…ha….


Komentar 4 : bila warna itu ibarat sifat manusia, bgmn jika warna pelangi dibolak balik? Dan adakah sifat manusia yg putih atau hitam exactly.?


Dan tentu masih banyak lagi komentar untuk status warna di FB.

Namun menurutku bila kita memaknai kehidupan dan melihatnya berdasarkan warna akupun juga ingin ikut mewarnainya,

Hidup juga bisa seperti pelangi kadang merah,kadang kuning atau hijau kadang juga biru, semua amat indah jika kita bisa menikmatinya, karena warna hanyalah pantulan-pantulan dari satu cahaya, kita buat indah atau tidak tergantung dari mana kita memandangnya

Namun bila kita melihat sifat manusia atas dasar warna-warna itu pun tidak salah dan menurutku Sifat atau jiwa manusia dalam penciptaan-Nya adalah putih. Putih dan hitam sudah amat jelas perbedaannya. Hanya saja ketika manusia sudah ter kotori oleh hawa nafsu dan kepentingan maka yang putih akan bergradasi menjadi abu-abu kemudian menjadi hitam atau bahkan tak terdefinisikan sama sekali.

manusia melihat warna melalui celah kepentingan dan hawa nafsu dan inilah yang membuat manusia mendefinisikan warna seenak perutnya sendiri, melupakan bahwa ada perbedaan amat besar antara yang hitam dan yang putih, border mana yang harus dihitamkan dan border mana yg harus diputihkan sudah tak penting lagi.

Dan seterusnya terserah diri masing-masing bagaimana kita mewarnai diri sendiri…….

Label:

16 Oktober, 2009

Serpihan Kaca

Cinta bukan sekedar perasaan tapi sebuah komitmen
Cinta tak perlu berakhir bahagia karena cinta tak perlu berakhir
‘Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan dan mengerti apa yang tidak dijelaskan’
Cinta tidak datang dari bibir lidah dan pikiran melainkan dari hati

Jika mencintai harus siap menerima penderitaan karena mengharapkan kebahagiaan akhir dari sebuah cerita sedangkan penderitaan adalah awal dari kebahagian.
Lebih baik kehilangan harga diri dan ego bersama orang yang kita cintai daripada kehilangan orang yang kita cintai karena ego tak berguna saat itu.

‘ Bagaimana kita akan mengatakan selamat tinggal pada seseorang yang tidak pernah kita miliki ’
Kenapa tetes airmata jatuh demi orang yang tak pernah menjadi kepunyaan kita
Kenapa kita merindukan orang yang tak pernah bersama kita
Kenapa mencintai seseorang yang cintanya tak pernah untuk kita

Jangan mencintai seseorang seperti bunga karna bunga mati kala musim berganti
Cintailah dia seperti angin karena angin berhembus selamanya.
Cinta mungkin akan meninggalkan hati kita bagaikan kepingan-kepingan kaca, tapi tancapkan lah dalam pikiran kita bahwa ada seseorang yang bersedia untuk menambal luka-luka itu dengan mengumpulkan kembali serpihan-serpihan kaca itu sehingga akan menjadi utuh kembali …..
Mencintai bukan untuk memiliki tapi sarana untuk mendewasakan diri
“Dream can change but Love is forever” (Tulisan dari Idishvoongdotcom)

Label:

14 Oktober, 2009

Ayah.., Dengarkanlah!

Di antara hal yang tidak diragukan lagi karena memang terjadi adalah bahwa setiap ayah mendambakan anak sebagai buah hati bisa sukses dan berhasil dalam pendidikan dan sekolahnya serta kehidupannya. Karenanya, ayah senantiasa berdo'a kepada Allah agar memberikan kemudahan dan keteguhan bagi anak tercinta. Ayah menjanjikan hadiah dan mengabulkan keinginan si buah hati jika lulus dalam ujian dan memberikan ancaman serta marah jika sampai gagal dalam ujian. Perasaan seperti ini memang merupakan fitrah manusia dan memang terjadi di antara kita.

Akan tetapi wahai Ayah yang penyayang, apakah perhatianmu kepada si buah hati berupa perhatian penuh terhadap sekolah, pendidikan, masa depan dan urusan dunianya itu -karena memang engkau sadar itu adalah kewajibanmu- sama seperti perhatianmu terhadap akhirat mereka? Apakah engkau benar-benar memikirkan dan mengkhawatirkan nasib mereka setelah mati seperti halnya perhatianmu akan kenyamanan dan kebahagiaan hidup mereka sewaktu di dunia? Inilah tanggung jawabmu wahai Ayah. Engkau curahkan semuanya untuk dunia yang fana sementara engkau abaikan akhirat yang kekal selamanya. Engkau sibuk memikirkan kehidupan mereka tapi engkau lupakan keadaan setelah matinya. Engkau bangun bagi mereka rumah dari tanah, batu dan bata di dunia tapi engkau haramkan mereka untuk mendapatkan rumah di akhirat yang indah bertatahkan intan permata.

Itulah keinginanmu! Itulah angan-anganmu! Semuanya tidak lebih dari agar anak-anakmu bisa jadi dokter, insinyur, pilot ataupun tentara. Ya Allah! Semuanya itu hanya cita-cita dunia…..! Engkau berusaha, bekerja membanting tulang dan bersungguh-sungguh hanya untuk dunianya… Mana usahamu untuk akhiratnya wahai Ayah……? Fenomena ini bukanlah sesuatu yang jarang terjadi, bahkan mayoritas manusia demikian adanya. Mereka begitu serius berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendidikan fisik anak-anaknya. Tetapi mereka menelantarkan pendidikan hatinya yang padahal dengannyalah anak-anaknya bisa hidup dan bahagia atau sebaliknya binasa dan sengsara. Inilah kenyataan!

Ayah! Mungkin engkau mengira bahwa ini hanyalah perkataan yang tiada beralasan. Tapi jika engkau ingin bukti maka simaklah wahai Ayah yang penyayang!

Bayangkan atau anggap anakmu terlambat mengikuti ujian di sekolahnya. Apakah yang engkau rasakan wahai Ayah? Bukankah engkau akan berlomba dengan waktu mengantarkan anakmu agar bisa mengikuti ujian meskipun terlambat? Bahkan sebelumnya, bukankah engkau akan rela untuk tidur setengah mata agar bisa membangunkan si buah hati supaya tidak terlambat? Bukankah engkau akan melakukan segalanya agar anak tercinta yang menjadi kebanggaanmu bisa ikut ujian tepat waktu? Saya yakin jawabannya adalah Ya. Bukankah engkau melakukan semua itu wahai Ayah? Akuilah!!

Sekarang, apakah perasaanmu itu sama atau akan muncul juga ketika anakmu terlambat shalat Shubuh? Apakah engkau akan berusaha agar anakmu shalat Shubuh tepat waktu? Saya hanya berprasangka baik bahwa engkau memang shalat Shubuh tepat waktu. Karena jika tidak, bagaimana mungkin engkau akan membangunkan anak-anakmu sementara engkau sendiri terlambat untuk itu?

Kemudian, bukankah engkau setiap hari senantiasa bertanya kepada anakmu tentang sekolahnya? Apa yang dipelajari, apa yang dilakukan, jawaban apa yang diberikan ketika ujian dan berharap jawaban itu benar? Tetapi, apakah setiap hari engkau bertanya juga tentang urusan agamanya? Apakah engkau bertanya sudahkah dia shalat? Dengan siapa dia duduk dan bergaul? Tidakkah engkau bertanya apa yang dia lakukan ketika tidak di rumah, ta'at atau maksiat?

07 Oktober, 2009

->>> Idola yang Terlupakan

Tahun 1995 aku mulai mengikuti pengajian Aa Gym di DT, sejak mengenalnya dia adalah sosok yang aku kagumi. Pemahaman ilmu agamanya aku tak meragukan, ceramahnya menyentuh dan mengena di hati, sederhana mudah dipahami, tutur katanya santun, lembut, pandai merangkai do’a dan wajahnya…… woow lumayan keren. Ternyata bukan aku saja yang mengagumi, hampir seluruh wanita Indonesia pun mengidolakanya. Baru kali ini ada idola dari kalangan kiai, biasanya kan dari kalangan artis.
Demam Aa Gym pun menjamur dimana-mana, sering aku mendengar ibu2 ngerumpi, “Betapa bahagianya jika memiliki suami seperti Aa”. Mendengar kehebohan mereka memuji Aa gym, aku hanya bisa senyum2, kasihan para suami dibanding-bandingkan sama Aa Gym, wah, bisa keok nih!.
Sampai pada saat Aa Gym memutuskan menikah lagi yang ke-2 terjadilah pro dan kontra. Ada yang mendukung tapi lebih banyak yang marah, mencaci maki, menghujat sampai melakukan boikot segala terutama ibu2, bahkan petinggi negara juga ikutan turun tangan, benar-benar seru. Negara sebesar ini bisa digemparkan oleh pesona satu orang Aa Gym, luar biasa!.
Sebagai orang yang mengidolakan aku juga sempat sssyook, tapi hanya sebentar, karena menurutku itu adalah pilihan, orang berhak menentukan apakah dia mau menikah lagi atau tidak, karena agama islam tidak melarang memiliki istri lebih dari satu, lagian kiai juga manusia.
Jika ibu2 begitu marah terhadap Aa gym aku pun juga tak bisa menyalahkannya, meskipun Aa gym mengistilahkan penentang poligami, adalah orang-orang yang kurang ilmu.
Namun menurutku kemampuan orang menyerap ilmu itu berbeda-beda, untuk bisa mengerti sebuah ilmu orang membutuhkan proses, untuk memahami dibutuhkan proses, dan untuk bisa menerima lebih banyak dibutuhkan proses, apa lagi ketakutan ibu2 atas virus yang akan ditularkan ke suami2 mereka, ikut-ikutan poligami karena terinspirasi oleh sang idola, nah loh, …pusing kan?
Dan itu terjadi padaku …..
Disuatu malam awalnya antara aku dan suami hanya membicarakan tentang pekerjaannya, tapi tiba2 dia mengajukan pertanyaan
“dhik bagaimana kalo mas menikah lagi?”
“serius?”
“ya, serius.”
Aku kaget mendengar pertanyaan sekaligus jawabanya, tapi aku memang tak memiliki pilihan lain kecuali harus berbesar hati. Cukup lama aku memberikan jawaban, demi menyatukan hati dan pikirin agar memiliki keberanian untuk menjawab
“kalau mas mo nikah lagi , aku ijinkan? “
“yang bener nih?”
“jika rosul saja melakukan poligami dan Allah pun mengijinkannya bagaimana mungkin aku bisa melarangmu?”
“kamu tahu dhik, kebanyakan pria menginginkan istri lebih dari satu”
Aku bertambah kaget, ucapanya semakin membuatku tak menentu aku mencoba menenangkan hati sambil berbisik, ya Tuhan jika memang Engkau takdirkan aku untuk dimadu buatlah aku menjadi kuat dan ikhlas menerimanya
“dhik, aku mendukung poligami, dan aku juga ingin sekali melakukannya, tapi masalahnya....? "
dia tak melanjutkan ucapannya tapi menatapku dalam-dalam, aku balik bertanya
“apa masalahnya?”
“masalahnya aku tak bisa pindah kelain hati”
saat itu juga ketegangan diwajahku memudar , dan dunia tak lagi buram dalam penglihatanku untuk meyakinkan aku bertanya, “bukankah poligami itu sunah”?
“ya,tapi masih banyak sunah2 lain yang bisa dikerjakan, apakah aku kehabisan sunah hingga aku harus melukai istri seperti mu?”
“ Jika mas menginginkan, aku tak akan menolak, aku hanya ingin melihat mas bahagia?”
“dengan mengijinkan aku menikah lagi?“
"Ya, karena itu adalah tiket untuk masuk surga”
"Setelah mendapatkannya, kau akan menukarku dengan pangeran yang ada di surga, begitu?“
"Jika seorang laki2 sholeh dia bisa mendapatkan bidadari dari surga, aku pun juga berhak mendapatkan pangerannya” Sekilas kulihat wajahnya sedikit risau, rupanya dia mulai cemburu dengan pangeran yang menungguku di surga
“Aku tak bisa bayangkan kalau kau dikerubuti oleh 70 pangeran”
“Tapi aku bisa membayangkannya”
“Apa?”
“Pasti itu saat yang paling menyenangkan”Aku tertawa, tapi dia geleng-geleng kepala.
“ckckckck ….Aku tak menyangka kamu punya imajinasi nakal”
aku bicara poligami agar kau mencemburuiku, aku ingin jawaban tidak, penolakan dengan kemarahan meledak-ledak, atau apa sajalah yang membuatku merasa dibutuhkan, tapi ini malah kebalikannya” Sepertinya dia bertambah jengkel,tapi kemudian dia mulai bersikap serius.
“dhik, kau tahu putri rosullulah, dia menolak saat suaminya meminta ijin untuk menikah lagi bahkan rosul sendiri murka mendengar anaknya akan dipoligami”
“ya aku pernah membacanya”
“ Jika poligami itu dianjurkan mengapa putri rosul sendiri menentang?, Bukankah sudah semestinya ia orang pertama yang akan mengamalkannya?, apakah dia akan masuk neraka karena tak memberi ijin suami menikah lagi?, padahal jelas kita tahu Allah telah menjamin dan menyediakan surga untuknya?”
“ Poligami adalah aturan yang paling merisaukan bagi ku dan sebagian besar perempuan , meskipun itu terasa berat dan membuat hatiku berantakan, namun bukan berarti harus mengurangi keimananku jika aturan itu diturunkan pastilah untuk kebaikan. Jadi bila mas seperti kebanyakan pria ,ingin lebih dari satu istri, aku pun akan menjadi sesholeh yang mas mau”
“ aku tak butuh istri sesholeh itu, aku hanya butuh hatimu”
Aku terdiam, selama ini aku telah mengidolakan orang lain yang begitu jauh, dan ia pun tak mengenalku apalagi peduli padaku, sementara aku melupakan kalau di rumah ini ada idola yang sesunggunya yaitu suamiku.

Label: