->>> Idola yang Terlupakan
Tahun 1995 aku mulai mengikuti pengajian Aa Gym di DT, sejak mengenalnya dia adalah sosok yang aku kagumi. Pemahaman ilmu agamanya aku tak meragukan, ceramahnya menyentuh dan mengena di hati, sederhana mudah dipahami, tutur katanya santun, lembut, pandai merangkai do’a dan wajahnya…… woow lumayan keren. Ternyata bukan aku saja yang mengagumi, hampir seluruh wanita Indonesia pun mengidolakanya. Baru kali ini ada idola dari kalangan kiai, biasanya kan dari kalangan artis. Demam Aa Gym pun menjamur dimana-mana, sering aku mendengar ibu2 ngerumpi, “Betapa bahagianya jika memiliki suami seperti Aa”. Mendengar kehebohan mereka memuji Aa gym, aku hanya bisa senyum2, kasihan para suami dibanding-bandingkan sama Aa Gym, wah, bisa keok nih!.
Sampai pada saat Aa Gym memutuskan menikah lagi yang ke-2 terjadilah pro dan kontra. Ada yang mendukung tapi lebih banyak yang marah, mencaci maki, menghujat sampai melakukan boikot segala terutama ibu2, bahkan petinggi negara juga ikutan turun tangan, benar-benar seru. Negara sebesar ini bisa digemparkan oleh pesona satu orang Aa Gym, luar biasa!.
Sebagai orang yang mengidolakan aku juga sempat sssyook, tapi hanya sebentar, karena menurutku itu adalah pilihan, orang berhak menentukan apakah dia mau menikah lagi atau tidak, karena agama islam tidak melarang memiliki istri lebih dari satu, lagian kiai juga manusia.
Jika ibu2 begitu marah terhadap Aa gym aku pun juga tak bisa menyalahkannya, meskipun Aa gym mengistilahkan penentang poligami, adalah orang-orang yang kurang ilmu.
Namun menurutku kemampuan orang menyerap ilmu itu berbeda-beda, untuk bisa mengerti sebuah ilmu orang membutuhkan proses, untuk memahami dibutuhkan proses, dan untuk bisa menerima lebih banyak dibutuhkan proses, apa lagi ketakutan ibu2 atas virus yang akan ditularkan ke suami2 mereka, ikut-ikutan poligami karena terinspirasi oleh sang idola, nah loh, …pusing kan?
Dan itu terjadi padaku …..
Disuatu malam awalnya antara aku dan suami hanya membicarakan tentang pekerjaannya, tapi tiba2 dia mengajukan pertanyaan
“dhik bagaimana kalo mas menikah lagi?”
“serius?”
“ya, serius.”
Aku kaget mendengar pertanyaan sekaligus jawabanya, tapi aku memang tak memiliki pilihan lain kecuali harus berbesar hati. Cukup lama aku memberikan jawaban, demi menyatukan hati dan pikirin agar memiliki keberanian untuk menjawab
“kalau mas mo nikah lagi , aku ijinkan? “
Aku kaget mendengar pertanyaan sekaligus jawabanya, tapi aku memang tak memiliki pilihan lain kecuali harus berbesar hati. Cukup lama aku memberikan jawaban, demi menyatukan hati dan pikirin agar memiliki keberanian untuk menjawab
“kalau mas mo nikah lagi , aku ijinkan? “
“yang bener nih?”
“jika rosul saja melakukan poligami dan Allah pun mengijinkannya bagaimana mungkin aku bisa melarangmu?”
“kamu tahu dhik, kebanyakan pria menginginkan istri lebih dari satu”
Aku bertambah kaget, ucapanya semakin membuatku tak menentu aku mencoba menenangkan hati sambil berbisik, ya Tuhan jika memang Engkau takdirkan aku untuk dimadu buatlah aku menjadi kuat dan ikhlas menerimanya
“dhik, aku mendukung poligami, dan aku juga ingin sekali melakukannya, tapi masalahnya....? "
dia tak melanjutkan ucapannya tapi menatapku dalam-dalam, aku balik bertanya
“apa masalahnya?”
“masalahnya aku tak bisa pindah kelain hati”
saat itu juga ketegangan diwajahku memudar , dan dunia tak lagi buram dalam penglihatanku untuk meyakinkan aku bertanya, “bukankah poligami itu sunah”?
“ya,tapi masih banyak sunah2 lain yang bisa dikerjakan, apakah aku kehabisan sunah hingga aku harus melukai istri seperti mu?”
“ Jika mas menginginkan, aku tak akan menolak, aku hanya ingin melihat mas bahagia?”
“dengan mengijinkan aku menikah lagi?“
"Ya, karena itu adalah tiket untuk masuk surga”
"Setelah mendapatkannya, kau akan menukarku dengan pangeran yang ada di surga, begitu?“
"Jika seorang laki2 sholeh dia bisa mendapatkan bidadari dari surga, aku pun juga berhak mendapatkan pangerannya” Sekilas kulihat wajahnya sedikit risau, rupanya dia mulai cemburu dengan pangeran yang menungguku di surga
“Aku tak bisa bayangkan kalau kau dikerubuti oleh 70 pangeran”
“Tapi aku bisa membayangkannya”
“Apa?”
“Pasti itu saat yang paling menyenangkan”Aku tertawa, tapi dia geleng-geleng kepala.
“ckckckck ….Aku tak menyangka kamu punya imajinasi nakal”
“ aku bicara poligami agar kau mencemburuiku, aku ingin jawaban tidak, penolakan dengan kemarahan meledak-ledak, atau apa sajalah yang membuatku merasa dibutuhkan, tapi ini malah kebalikannya” Sepertinya dia bertambah jengkel,tapi kemudian dia mulai bersikap serius.
“dhik, kau tahu putri rosullulah, dia menolak saat suaminya meminta ijin untuk menikah lagi bahkan rosul sendiri murka mendengar anaknya akan dipoligami”
“ya aku pernah membacanya”
“ Jika poligami itu dianjurkan mengapa putri rosul sendiri menentang?, Bukankah sudah semestinya ia orang pertama yang akan mengamalkannya?, apakah dia akan masuk neraka karena tak memberi ijin suami menikah lagi?, padahal jelas kita tahu Allah telah menjamin dan menyediakan surga untuknya?”
“ Poligami adalah aturan yang paling merisaukan bagi ku dan sebagian besar perempuan , meskipun itu terasa berat dan membuat hatiku berantakan, namun bukan berarti harus mengurangi keimananku jika aturan itu diturunkan pastilah untuk kebaikan. Jadi bila mas seperti kebanyakan pria ,ingin lebih dari satu istri, aku pun akan menjadi sesholeh yang mas mau”
“ aku tak butuh istri sesholeh itu, aku hanya butuh hatimu”
Aku terdiam, selama ini aku telah mengidolakan orang lain yang begitu jauh, dan ia pun tak mengenalku apalagi peduli padaku, sementara aku melupakan kalau di rumah ini ada idola yang sesunggunya yaitu suamiku.
Label: Conscience


2 Komentar:
uuuhhhh...co cweeeeeeeeeettt!!!!!!BIkin ngiriii euy!!!Kpn yakz mbak, Pria yg mcintai aq spt itu??!!!huhuhuhu...Dimanakah kau berada???!!!
Buat gHALs= He...he....Suatu saat kamu juga akan menemukannya,pria yang amat berarti ,yang memberikan hidupnya hanya untuk mu, percayalah bila kita baik Allah akan mengirimkan seorang pangeran yang baik pula, tetaplah memperbaiki diri
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda