Dewi Kartika

11 Juli, 2009

Sebuah Renungan dari Panti Lanjut Usia

Tulisan ini ku buat sebagai selingan dalam presentasiku pada Seminar Pelayanan Departemen Sosial bagi Lanjut Usia di Bambu Apus Jak-Tim. Saat membacakannya dg diiringi alunan musik nan lembut, banyak yang terharu dan meneteskan air mata, tapi bukan maksud untuk membuat audien sedih, cuma sekedar mengingatkan bila suatu saat kita pun akan seperti mereka .


Sebuah Renungan dari PSTW


Dulu kami juga gagah , tubuh kami tegap, dada
kami bidang , mata kami berbinar tajam
menatap masa depan,
dulu kami sangat tampan hingga tak seorang gadis pun menolak
jika kami ajak untuk berkencan

dulu kami juga muda dan bersemangat tak gentar menghadapi kerasnya kehidupan
tanpa kenal lelah kami banting tulang
untuk menafkahi keluarga yang sangat kami banggakan

dulu kami juga sangat cantik, tubuh kami seksi, kulit kami halus bak sutra,
bibir kami memerah, rambut kami ikal tergerai berkilauan, dan begitu
banyak pria memuja kami

tapi kini lihatlah..........
kulit kami keriput, rambut kami memutih,
mata kami rabun, tiap kali beranjak dari
tempat duduk kami gemetaran, jalan pun kami sempoyongan
dan terlalu banyak penyakit yang mengerogoti tubuh ini

Adakah yang masih peduli dengan kami?

ketika kami tiada harapan ketika tubuh yang renta ini tergilas oleh waktu
dan hanya tinggal ketidakberdayaan kami menjadi terbuang
bahkan oleh keluarga yang kami cintai

Namun senyum itu datang
ketulusan itu menjelang mewarnai hari-hari yang kami lewati
seorang pekerja sosial bersama
keikhlasannya menerima kami dengan senyum penghargaan
adakah yang lebih indah dari itu?

kami rasa tidak....
doa kami dan kenangannya tentang mereka
akan kami bawa hingga ditutup usia

dari seorang kakek dan nenek yang terbuang
untuk seorang pekerja sosial yang berhati mulia

Nenek dan kakek dalam video di atas baru saja menikah lho !, mereka bertemu di panti, saling jatuh cinta trus menikah. Lucu banget :))

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda